GROBOGANCyberMedia (GCM) —
Namanya mi tek-tek. Disebut demikian, barangkali karena mi ini
kebanyakan dijual dengan cara berkeliling menggunakan gerobak, dengan
penjualnya membunyikan bunyi tek tek tek untuk mengundang pembeli.
Jadilah, mi ini disebut mi tek-tek.
Kuliner
khas Godong, Kabupaten Grobogan, ini ternyata sudah lumayan terkenal.
Setidaknya di Semarang, kuliner ini sudah bisa ditemui. Bahkan di sebuah
buku berjudul Peta Lengkap Kuliner Semarang yang diterbitkan
oleh sebuah penerbit di Yogyakarta, kuliner khas Godong ini masuk di
dalamnya. Di buku itu dengan jelas disebut Mi Tek-tek Godong.
Di
Godong sendiri, mi tek-tek ada yang dijajakan secara keliling, ada juga
yang penjualnya mangkal di sebuah tempat. Penjual mi tek-tek yang
mangkal bisa dijumpai setiap malam di depan KUD Plongkowati, Bugel,
Godong.
Salah
satu penjual mi tek-tek yang memilih berjualan keliling adalah Pak
Sukirno. Setiap malam, warga Desa Ketitang, Kecamatan Godong ini,
menjajakan mi tek-teknya melintasi Jl Muh Kurdi, Desa Bugel. Berangkat
dari rumah sehabis isya sekitar jam 19.30, kemudian pulang sekitar jam
01.00 dini hari. Demikian itu dilakoninya setiap malam. Lha gimana lagi
mas, sudah pekerjaannya, ya dinikmati, tutur Pak Sukirno.
Mi
tek-tek sendiri berbeda dengan kuliner berbahan mi lainnya seperti mi
ayam. Yang khas dari mi tek-tek ini adalah proses memasaknya yang
memakai arang kayu, tidak dengan memakai kompor minyak atau kompor gas.
Proses ini menimbulkan sensasi nikmat yang berbeda, sangat khas, dan
terasa lebih nikmat.
Soal
harga, dijamin sangat merakyat. Untuk bisa menikmati semangkok mi
tek-tek, Anda hanya cukup merogoh kocek Rp 10 ribu. Dengan harga segitu,
sudah termasuk 5 tusuk sate ayam pelengkap mi tek-tek. Hmm, nikmatnya.
Kalau
Anda tengah ke Godong, jangan lupa menikmati sensasi kuliner mi tek-tek
yang khas itu. Sayangnya, mi ini hanya bisa dijumpai di malam hari.
Karena semakin malam, mi tek-tek terasa semakin nikmat disantap. Mau
coba?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar